Kalau kamu ingin hidup bersih, mulailah dari kukumu. Kenapa bisa begitu? Karena aktivitas kita selalu melibatkan jari tangan yang ditumbuhi kuku. Jika kuku di jari taganmu kotor, maka kamu akan dekat dengan penyakit. Itulah sebabnya kamu harus memotong kuku secara teratur.

Apa saja manfaat memotong kuku secara teratur?

  1. Mencegah bersarangnya kotoran

Perhatikan, kalau di sela-sela antara jari dan kuku ada warna hitam, itu tandanya kuku telah menjadi tempat menyimpan kotoran. Namanya saja kotoran, bisa mengandung berbagai kuman dan bakteri. Bayangkan kalau kamu pegang makanan atau memasukkan jari ke hidung, maka kuman atau bakteri di kuku tadi ikut masuk. Akibatnya, kamu bisa terserang berbagai penyakit, misalnya penyakit pada pencernaan dan penyakit mata.

  1. Mencegah tumbuhnya bakteri Tinea

Bakteri Tinea tumbuh pada kuku yang panjang dan tidak terjaga kebersihannya. Bakteri ini menyebabkan terjadinya kutu air, ruam merah di kuku dan kuku berwarna kuning. Makanya, kamu harus memotong kukumu secara teratur.

  1. Mencegah tumbuhnya kuku ke dalam jari

Kuku yang sudah mulai panjang membuat ukuran kuku semakin besar dan bisa menembus kulit jari. Akibatnya, timbul rasa sakit bahkan bisa terjadi pembengkakan dan infeksi.

  1. Terhindar dari luka

Memiliki kuku yang panjang bisa mengakibatkan luka pada kulit akibat cakaran kuku kita sendiri. Kuku yang panjang juga mudah patah jika tersandung atau terbentur benda keras, sehingga mengakibatkan luka pada jari.

  1. Memperlancar gerakan jari

Pemilik kuku panjang, mandinya kurang bersih. Jari berkuku panjang tidak bisa menjangkau bagian tubuh yang terdapat lipatan kecil, misalnya bagian dalam daun telinga. Kuku yang panjang juga meyulitkan gerakan kita saat memencet tombol pada handphone, komputer atau kamera.

  1. Memperindah penampilan

Kuku yang terpotong rapi dan bersih membuat penampilan kamu semakin tampak keren. Mau, kaaan?

Jadi mau pilih mana, kuku pendek dan bersih atau panjang dan jorok? Kalau akalmu.com sih jelas pilih yang pendek, bersih, dan hidup sehat. Setuju?

 

(Dari bebagai sumber)

Comments

comments