Nama Daan Mogot tidaklah asing di telinga orang Indonesia terutama warga Jabodetabek, karena nama tersebut menjadi salah satu nama jalan utama di Jakarta. Selain menjadi prasarana transportasi, jalan tersebut  juga menyimpan peninggalan sejarah. Salah satu bukti peninggalan tersebut adalah adanya Rumah Lengkong di Serpong, Kota Tangerang Selatan.

Tidak se-tua jalannya, Daan Mogot ialah seorang pemuda dengan prestasi militer yang cemerlang. Di usianya yang ke-14, ia mendapatkan kepercayaan untuk menjadi anggota  Seinan Dojo (pasukan militer pribumi bentukan Jepang) walau usianya tidak memenuhi syarat. Selain itu, di usianya yang masih belasan tahun itu, Daan Mogot mendapatkan pangkat sebagai Perwira dan pernah menjadi instruktur di PETA. Kiprahnya sebagai pahlawan memang tidak populer, namun atas jasa-jasanya tersebut terlahir sosok-sosok prajurit tangguh yang siap menjadi garda terdepan pertahanan negara.

Masih di usia mudanya, Daan yang bernama asli Elias Daniel Mogot ini menggagas Akademi Militer bersama teman-temannya. Gagasan tersebut ditanggapi dengan serius oleh Markas Besar Tentara (MBT) di Jakarta. Kemudian gagasan tersebut menjadi Militaire Academie Tangerang (MAT) yang dipimpin langsung oleh Daan Mogot yang masih berusia 17 tahun.

Walaupun Daan tidak banyak terlibat dalam pertempuran besar, jasa-jasanya dalam mencetak prajurit tangguh patut diapresiasi. Terutama dengan usianya yang masih belia dapat menginspirasi kita, generasi muda, untuk berkarya nyata. Bukan hanya duduk diam atau berkelana tanpa arah dan tujuan.

Pertempuran Lengkong mengakhiri kisah Daan Mogot. Ia gugur dalam pertempuran tak disangka itu. Perundingan yang awalnya berjalan dengan baik tiba-tiba dikejutkan dengan suara tembakan di luar ruangan. Tembakan tersebut kemudian disusul dengan serangan mitraliur (pistol jarak dekat) dari pos penjagaan Jepang. Pasukan yang dibawa Daan Mogot akhirnya terjebak.

Dalam usahanya menghentikan pertempuran tersebut, Daan Mogot mendapatkan serangan tembakan. Paha dan dadanya dihujani peluru dari pasukan Jepang. Perundingan pelucutan senjata Jepang akhirnya berubah menjadi pertempuran Lengkong.

Rumah Lengkong menjadi saksi bisu kejadian tersebut. Namun sayang, kondisi Rumah Lengkong yang bersejarah tersebut tak teurus dengan baik oleh pemerintah setempat.

Monumen Akademi Militer dan Taman Makam Pahlawan Taruna di Tangerang pun dibangun untuk mengenang peristiwa Lengkong tersebut.

Penulis : Prihandini

Editor : Fahar Baswara W.

Comments

comments

BERBAGI
Artikel SebelumnyaO.S. Tjokroaminoto: Raja Jawa Tanpa Mahkota