Sebagai manusia, kita pasti tidak pernah lepas dari interaksi sosial, dan pasti kalian juga nggak asing dengan kata ‘teman’. Seorang teman bisa mempengaruhi kepribadian kita juga, lho! Baik-buruknya diri kita bisa tergantung pada siapa kita berteman, terutama di zaman sekarang.

Ada orang bilang “kalau berteman itu sama siapa saja! Jangan pilih-pilih!”, tapi di lain waktu ada juga yang bilang “kita harus pilih-pilih dengan siapa kita berteman!”. Nah, lho, jadi bingung mau ikut pendapat yang mana, kan?

Sebenarnya, sih, mudah saja, dua kalimat yang sering kita dengar diatas punya makna yang sama-sama benar, tapi berbeda fungsi. Lalu, bagaimana kita menyikapi dua pendapat tadi? Begini, nih! Biar kamu nggak salah pergaulan dan terjerumus ke dalam tindakan menyimpang.

  1. “Kalau berteman sama siapa saja! Jangan pilih-pilih!”

Betul, kita nggak boleh pilih-pilih teman hanya karena wajahnya cantik atau ganteng, nggak boleh pilih-pilih teman yang orang tuanya kaya saja, apalagi kita juga nggak boleh pilih-pilih teman yang fisiknya sempurna saja dan nggak mau berteman dengan orang yang punya kecacatan pada tubuhnya.

Intinya, kita nggak boleh pilih-pilih teman kalau urusannya memandang fisik, ya! Karena semua ciptaan Tuhan itu indah dengan caranya masing-masing dan Tuhan nggak memandang fisik kita, tapi dari hati dan perbuatan kita.

  1. “Kita harus pilih-pilih dengan siapa kita berteman!”

Pendapat yang ini betul juga! Sebisa mungkin kita hindari teman yang membuat kita jadi anak nakal, pemalas, bahkan sampai membangkang sama orang tua. Kita hindari teman yang kelakuannya kasar dan suka mem-bully sesama temannya. Kita hindari juga teman yang mengajak kita kepada keburukan dan hal negatif.

Kesimpulannya, bukan masalah dengan siapa saja kita berteman, asalkan mereka adalah orang yang menguntungkan kita dan memiliki dampak positif buat kita. Lebih baik lagi jika kita yang membawa kebaikan untuk hidup teman kita. Mulai sekarang, jangan sampai salah bergaul, ya! karena pergaulan kita sekarang dapat menentukan masa depan kita.

Comments

comments